Cerita di 2019


2019-

2019 adalah tahun yang mengajarkanku apa arti melepas dan ikhlas. Merelakan seseorang yang dahulu pernah bertamu walau sebentar. Merelakan sosok layaknya rumah, namun ternyata hanya sekadar singgah. Diharuskan mengikhlaskan dengan segala jenis tawa, kesedihan, dan saling menguatkan yang pernah terjadi.

2019 adalah tahun aku patah terlalu dalam. Ditinggalkan tanpa bisa berkata 'tidak' untuk menolak berpisah. Luka yang diberikan harus ku telan dalam-dalam. Meringkuk sendirian dalam kamar, sesenggukan kala malam, serta bercerita pada buku layaknya teman. Tarikan nafasku tersendat. Dingin menyelimuti awan dalam gelap, menghanyutkan tiap pikiran tentang perpisahan dan kenangan.

2019 adalah tahun yang memperlihatkan kenyataan bahwa dia sudah tidak memiliki rasa yang sama. Memperlihatkanku bahwa kisah yang dirajut setengah tahun bisa hilang secepat kilat. Memperlihatkanku betapa bodoh masih memikirkan sosok yang sudah pergi. Kenyataan yang tidak bisa ku terima awalnya. 'Lupa' dalam ucap, 'Sulit' ketika aku mencobanya.

2019 adalah tahun yang membuatku sadar bahwa benar cinta tidak harus memiliki. Beberapa peristiwa terkadang hanya untuk dijadikan kenangan. Dikira menggenggam, namun hanya menyentuh. Dikira merangkul, namun hanya menepuk bahu. Yang ku bayangkan selamanya, ternyata berhenti di persimpangan kenyataan bahwa katanya ego adalah penyebab dari sudahnya kisah cinta.

2019 adalah tahun yang mengajarkanku arti sabar. Berkali-kali meredam amarah dan sedih ditemani waktu cukup lama. Pemandanganmu dengannya adalah luka untukku, namun juga menguatkan dinding hatiku. Melihat dirimu adalah rasa sakit untukku, namun mampu menegarkan jiwaku. Waktu tidak membantu dalam proses penyembuhan luka, ia akan tetap seperti itu. Berdamainya diri, hati, dan logika adalah jawaban dari rasa sakit itu.

Ada bahagia, ada luka, ada kecewa, ada tangis, ada tawa. . .

3 tahun berlalu dari patah itu menjadikanku wanita yang lebih dingin dalam perasaan. Lebih tak acuh dalam percintaan. Dan menarik kesimpulan bahwa pujian dari laki-laki untuk wanita hanya sekadar untuk menyenangkan hati wanita itu.

Namun bagaimanapun juga aku tetap harus berterima kasih pada kisah-kisah di tahun 2019. Kisah-kisah yang mengajarkanku banyak hal dan aku mampu melewatinya. Ku kira aku akan kalah dan terpuruk, tapi kenyataannya aku tidak selemah yang aku pikirkan. Luka, kecewa, dan rasa sakit mendewasakanku perlahan. Mengajakku untuk memahami segala hal yang terjadi di dunia ini. Memahami bahwa hidup pasti ada tawa dan luka.

Terima kasih 2019. Pelajaran mengolah hati, diri, dan pikiran yang jadi bekalku sekarang ini.

Komentar

Postingan Populer