Sosok Berambut Panjang Sampai Ketindihan di Kamar Kos
Februari, 2018 merupakan bulan magang saya selama menjadi siswa SMK. Saya cukup bingung untuk memilih tempat magang. Di satu sisi saya ingin jauh dari rumah agar bisa mandiri, di sisi lain saya juga harus memikirkan perekonomian keluarga saya yang pasti akan ada banyak pengeluaran jika saya harus tinggal jauh dari keluarga. Karena saat itu cukup banyak siswa SMK dari sekolah lain yang juga harus magang, saya harus cepat menentukan pilihan, dimana saya harus melakukan magang ini. Dan akhirnya, saya memilih tempat magang di kota yang memerlukan waktu 30-45 menit untuk sampai ke sana. Ada 5 orang dengan saya yang magang di tempat itu dan kami sepakat untuk ngekos saja daripada harus bolak-balik, terlebih yang punya shift siang.
H-1 minggu saya dan teman-teman saya, Juju, Nisa, Dayen, dan Nurul melakukan kunjungan ke tempat magang untuk memberikan surat dari sekolah sekaligus mencari kos yang dekat dengan tempat magang kami. Setelah bertanya-tanya dengan karyawan yang ada di tempat magang itu, saya dan teman-teman akhirnya mencoba mengunjungi tempat kos yang dimaksud. Tidak jauh dari tempat magang, 7 menit jalan saja sudah sampai.
Sesampainya di sana, kami disambut oleh nenek dan kakek,
kami menyebutnya “mbah uti dan mbah kung”. Kami bertanya perihal kos-kosan yang
ditunjukkan karyawan tadi. Namun saya mengamati, bentuk rumah yang kami
kunjungi tidak seperti kos-kosan yang punya banyak kamar di dalamnya. Bentuknya
seperti rumah biasa untuk tinggal 1 keluarga. Dan ada satu tempat seperti
warung di bagian depan samping kirinya.
“Oh, kos mbak. Ini.. ini ada tempat kosong. Tadinya ini
tempat kerja cucu saya, tapi lama ini kosong karena dia di luar kota. Tapi ya
di sini belum ada apa-apa mbak. Cuma ada dapur sama kamar mandi” ucap mbah uti
sambil memperlihatkan tempatnya.
Kami berlima saling menatap karena bingung. Masa kami harus
tidur hanya beralaskan tikar? Apalagi tempat yang seperti warung itu cukup luas
untuk kami berlima. Kalau harus membawa kasur, bantal, guling, selimut, dan
perkakas lainnya tentu cukup merepotkan. Lalu temanku, Nisa bertanya, “tidak
ada kamar lain mbah?”. Mbah uti pun menawarkan kami untuk ngekos di kamar di
dalam rumahnya.
“Ini ada kamar, kamar cucu saya. Tapi nanti ada yang tidur
di bawah. Ini ada kasur kecil bisa dipakai” jawab mbah uti.
“Memang tidak papa mbah kalau kami pakai? Takutnya nanti
cucunya mbah pulang gimana?” tanya Juju.
“Tidak papa. Nanti biar dia di depan aja, di tempat kerjanya
itu” jawab mbah uti sambil tertawa.
“Kalau kalian mau masak, bisa pakai dapur saya itu. Atau kalau
mandi biar gak rebutan, pakai yang di dalam sama yang di depan tadi aja” tambah
mbah uti.
Setelah berdiskusi mengenai kamar, jarak, dan harga kosnya,
akhirnya kami sepakat memilih tempat tersebut untuk 3 bulan ke depan.
Hari-hari kami berlima berjalan dengan baik. Ada yang masuk
shift pagi, ada yang shift siang. Kami berusaha untuk belajar dengan baik
selama magang. Namun, ketika kami sedang cerita-cerita, tiba-tiba Juju
bercerita horror yang kemudian disambung Nisa dengan kejadian horror di kos
tersebut. Nisa bisa dibilang lebih peka dari kami berempat dan bisa melihat hal
tak kasat mata. Karena semua bercerita horror, akhirnya sayapun menceritakan
apa yang saya rasakan selama di sana. Saya tidak bisa melihat hal-hal tak kasat
mata seperti Nisa, namun saya cukup peka dengan merasakan kehadirannya.
Ketika saya mandi di kamar mandi depan, hawa dingin terasa
di dalam kamar mandi tersebut. Saya masih cuek dan berpikir itu hanya angin
dari luar. Saya mandi menghadap bak mandi dan closet yang berjejeran. Entah
kenapa, dari sudut mata kanan saya, saya merasa ada sosok Perempuan yang sedang
mengurai rambutnya ke depan. Saya sedikit terkejut tapi saya berusaha
mengalihkan pikiran kalua itu hanya rasa takut saya saja.
Besok dan hari-hari selanjutnya, Ketika saya mandi di kamar mandi yang ada di depan lagi, saya tetap merasakan hal yang sama. Sosok itu seperti berdiam diri di pojok closet itu dan tetap hanya mengurai rambutnya seperti biasa. Dia tidak menampakkan wajahnya dan saya hanya bisa merasakan kehadirannya saja. Anehnya, setelah merasakan hal yang sama ketika mandi di kamar mandi tersebut, saya tetap memilih mandi di sana daripada kamar mandi yang ada di dalam. Saya jadi terbiasa dan seolah menganggapnya tidak ada meski saya merasakan hal yang sama Ketika mandi di kamar mandi depan. Dari cerita yang saya ceritakan kepada mereka berempat, saya bertanya pada Nisa, apakah yang saya rasakan itu benar atau tidak. Nisa hanya mengangguk dan mengatakan kalau di kamar mandi depan memang ada sosok.
Entah di hari apa dan kapan tanggalnya, saya dan keempat
teman saya serta mbah uti dan mbah kung melaksanakan sholat magrib Bersama di
tempat sholat yang ada di dalam rumah. Satu per satu dari kami berlima
bergantian untuk mengambil air wudhu. Kondisi tempat wudhu di rumah itu ada di
belakang dan cukup gelap karena lampunya memang dimatikan dibagian itu ketika malam.
Saya mendapat giliran terakhir untuk berwudhu dan saya minta ditunggu, walaupun
jarak dari tempat wudhu ke tempat sholat sangat dekat. Namun saat saya sedang
mengambil air wudhu, saya merasa tangan saya ada yang menyentuh. Seperti pergesekan
antara kulit, bukan disentuh dengan sengaja. Saya merasa mungkin teman saya
lewat dan tidak melihat saya dengan jelas. Namun Ketika saya tanya saat selesai
berwudhu, mereka semua menjawab tidak ada yang menyentuh saya. Bahkan teman
yang menunggu saya pun hanya berdiri di sebelah kanan saya. Saya cukup
ketakutan saat itu dan buru-buru sholat lalu kembali ke kamar.
Saya merasakan takut, tapi saya mencoba untuk bersikap
biasa. Toh mereka juga tidak mengganggu saya. Saya percaya bahwa saya dan
makhluk tak kasat mata hidup berdampingan. Selama mereka tidak mengganggu saya,
itu cukup.
Namun hal yang tidak saya duga akhirnya terjadi. Hari itu mereka berempat pulang ke rumah dan hanya ada saya sendiri di kamar. Saya tidur dengan leluasa waktu itu. Dan ketika saya tertidur, saya melihat pintu kamar saya terbuka sedikit. Tak lama, ada sosok Perempuan berbaju putih dan berambut Panjang dating menghampiri saya. Sosok itu tidak terlihat berjalan, dia seperti melayang, bahkan kakinya pun tidak terlihat. Dia duduk di sebelah saya yang masih dalam posisi tidur dan coba memeluk saya. Saya sangat ketakutan. Saya berteriak, tapi anehnya suara saya tidak terdengar. Berkali-kali saya berteriak ketakutan tetap tidak terdengar. Sampai akhirnya Ketika saya berteriak menyebut “mbahhhhh”, seketika sosok itu melepas pelukannya dan pergi melewati pintu yang sama. Saya menangis dan ketakutan dengan posisi mata tertutup. Setelah sosok itu pergi, saya tidak berani membuka mata saya kurang lebih sekitar 15 menit. Saya terus membaca doa-doa yang saya bisa. Dan Ketika saya mendengar ada bunyi pintu terbuka dan suara manusia, saya berusaha memberanikan diri untuk membuka mata. Perlahan saya berjalan keluar dan benar saja ada cucu dari mbah uti yang baru pulang. Saat itu waktu menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Saya menghampiri cucu dari mbah uti dan langsung menangis karena ketakutan. Saat itu saya tidak ingin tidur di kamar itu dan tidak ingin sendirian. Saya takut jika sosok itu kembali datang.
Saya tidur dengan cucu mbah uti di kamar sebelahnya. Sebelum tidur, saya menceritakan apa yang saya alami tadi. Sambil sesekali menangis dan menahan rasa takut, saya berusaha menyelesaikan cerita saya. Ternyata, pekarangan luas sebelah rumah mbah uti yang saya tempati sebagai kos juga memiliki kisah horror yang tak kalah menakutkan dari saya. Namun saya tidak ingin terjebak di ketakutan ini. Saya berusaha untuk bersikap biasa saja. Alhasil, ketika yang lain pada pulang, saya juga ikut pulang, hee.
Timaciw udah baca :)

Komentar
Posting Komentar